Every Girls Deserve
Apakah
berparas cantik merupakan suatu kelebihan ?.
Kadang
gue berpikir tentang bagaimana perasaan perempuan yang berparas lumayan. Apakah
mereka senang ?, apakah mereka terganggu ?, atau apakah justru mereka punya
perasaan ingin menjadi yang biasa-biasa saja ?.
Gue
sih bukan duta kampus, duta daerah, atau miss universe yang mayoritas terpilih
memang parasnya ngga bisa diragukan. Gue cuma anak bapak dan mama gue yang
wajahnya ya cenderung mirip sama mereka. Sengaja ga pernah beli bedak,
perawatan, beli perlengkapan kecantikan, bahkan lipstik aja gue baru kenal pas
2017, waktu itu gue kerja sampingan di sebuah perusahaan distributor baju dari
berbagai macam desainer di tanah air.
Karyawan
dan teman-teman yang sama-sama kerja sampingan saat itu fashionable dan cenderung merawat diri, jadilah gue menyesuaikan
mereka, meski sekedar pakai lipstik. Dari kecil memang gue diajarkan untuk
berpikir prioritas, sejak SMK saat teman-teman beli minyak wangi ini itu atau
bedak ini itu, ke salon dan lain sebagainya. Gue sih cukup tau aja. Ya gue
berpikir suatu saat gue akan beli itu jika memang sudah saat nya dan sudah
sepantasnya.
Kembali
ke topik.
Gue
sering melihat di eksplor instagram gue banyak banget cewek-cewek berparas
cantik. Saking mudahnya browsing,
unggah, dan stalking, orang-orang
dari ujung dunia manapun bisa saling melihat dan beropini mengenai kecantikan
mereka. Saking banyaknya gue sampe keder. Etdah banyak banget cewek cakep ya
jaman sekarang. Orang biasa dari daerah manapun yang padahal bukan model aja kadang
potensial dan mencari celah untuk “terlihat”. Orang lain meskipun engga kenal
dengan orang yang di stalking tersebut
mudah berasumsi “wah cakep nih!”.
Rasanya
ingin gue mananyakan dua pertanyaan kepada dua kubu yang terlibat. Sebenarnya definisi
cantik itu apasih ?. Apakah bisa seseorang dikatakan cantik hanya sekilas dilihat
dari foto yang di unggah ?. Mereka yang tak mengenal bagaimana watak dan
kepribadian masing-masing kenapa begitu mudah untuk menilai ?. Secara fisik masing-masing
orang juga punya penilaiannya mana yang cantik dan mana yang jelek menurut
mereka. Ada yang berpendapat kulit hitam itu menarik, ada yang bilang kurus itu
tidak menarik, ada yang bilang gemuk itu cantik, ada yang bilang cewek dengan
fisik begini dan begitu itu cantik atau jelek dan segala macem.
Kadang
gue ngga bisa berkata-kata kalau ada orang membandingkan antara satu perempuan
dengan perempuan yang lain. Apalagi kalau membandingkan secara fisik. Its okay, bagi mereka yang memang
ditakdirkan memiliki paras lumayan, tapi gue sering melihat judging dan blaming bagi mereka yang sudah ditakdirkan kurang secara fisik. But, world teach and said to me that every girls
in the world are beautiful.
“Kalau fisik menjadi dasar penilaian, maka untuk apa hati
diciptakan ?”
Sometimes I am impressed by people who have no body goals but they impress with something more than
a sexy body. Mungkin orang menyebutnya beauty
inside. Semua itu engga terlihat pada snapgram
atau jepretan foto-foto ciamik yang mereka posting.
Dalam
pertemanan, sebisa mungkin gue menilai teman-teman kurang lebih setelah satu
minggu perkenalan. Bagaimana watak asli mereka, dan gue baru akan menilai
mereka cantik dan memberikan respect
dengan perbuatan mereka yang menakjubkan. Bagaimana cara berpikir mereka,
kebiasaan, dan keinginan mereka untuk berubah dari suatu hal yang benar-benar
menarik.
Intinya
perbanyak interaksi dan sosialiasi. Mungkin hal ini yang banyak menimbulkan
perbedaan pendapat dan permasalahan sosial pada jaman sekarang. Banyak orang
saling menjelekkan dan saling mengatai padahal mereka belum pernah bertemu sama
sekali. Gue aja sampe gregetan kalau liat orang berantem di suatu kolom
komentar. Jadilah mereka tidak saling memahami namun sudah berani memaki. Coba
bayangin, andai di semua media sosial tidak menyediakan kolom komentar dan
tombol like. Semua orang saat ini
mungkin terbiasa untuk menjaga mulut (lebih tepatnya tangan) untuk mengatai dan
berkomentar buruk pada suatu akun. Mungkin semua orang saat ini terbiasa untuk
tidak resah setiap kali mengunggah tentang berapa banyak yang menyukai atau
berapa banyak yang engga suka.
Kita
engga pernah tau perempuan mana yang suka dan engga suka dibilang cantik. Perempuan
mana yang sedih dan sakit hati dibilang jelek atau gendutan. Semuanya tentang
bagaimana seseorang untuk menahan. Tahan untuk mengatai dan tahan untuk menjaga
perasaan orang lain, lets we go back to
90’s era secara kepribadian dan karakter untuk saling menjaga dan
menghormati sesama manusia. Karena teknologi sekarang sudah bertumbuh dan sulit
untuk dibubarkan. Bukan menyalahkan teknologinya, tapi mari berkaca pada
tindakan masing-masing individu untuk menahan diri.
“Menasehati secara bersembunyi-sembunyi itu lebih keren
dibandingkan terang-terangan di hadapan publik tapi ada kecenderungan
mempermalukan seseorang. Lets change!.”
Komentar
Posting Komentar