Objek Wisata SIKADU, Muncanglarang, Bumijawa, Kabupaten Tegal



Perkembangan teknologi yang kian pesat saat ini menjadikan penggunanya semakin bertambah. Kemudahan mendapatkan alat komunikasi dan informasi seperti telepon genggam, laptop, dan tablet membuat jumlah penggunanya semakin meningkat. Bukan hanya sebagai alat komunikasi, kini fungsinya kian beragam apalagi jika disandingkan beragam aplikasi yang juga memiliki beragam fungsi. Dari aplikasi permainan, percakapan, berbagi data, mengirim email, dan media sosial.

Media sosial dengan kehidupan mayanya seolah memang benar-benar telah hidup. Dari mulai mengunggah foto hasil jepretan sendiri di media sosial lalu pengguna media yang sama di lain lokasi dapat berkomentar bahkan mengkritisi apa yang kita posting tersebut. Salah satu media sosial yang sedang naik daun sejak tahun 2016 lalu yakni Instagram yang di usung oleh pemilik akun @kevin ini makin eksis dan mencoba menerapkan menu tambahan seperti siaran langsung dan emotikon lucu yang tersedia saat penggunanya akan mengunggah Instastory nya.

Hal ini menjadikan keuntungan tersendiri bagi negara-negara tertentu yang memiliki keindahan dalam negeri yang hendak memamerkan wisata alamnya. Dengan promosi secara tidak langsung oleh individu yang tengah melancong dan memosting foto perjalananya. Belakangan ini beberapa lokasi wisata yang tersembunyi menjadi terekspos dan banyak dikunjungi karena unggahan foto oleh individu atau publik figur tertentu.

Hal yang sama saya alami beberapa hari lalu, saat kebetulan memiliki waktu senggang karena libur semester kuliah. Saya dan beberapa teman saya dari kampus lain yang satu daerah mencoba menjajaki satu daerah yang belum pernah kami kunjungi. Kebetulan kami berada di wilayah Kabupaten Tegal yang berdekatan dengan objek wisata air panas GUCI. Namun kami ingin mencoba menjajaki daerah yang lain. Setelah mencari di beberapa akun yang menyediakan informasi obyek wisata di wilayah ini, salah satu dari kami menemukan beberapa lokasi yang menarik. Belakangan ternyata terdapat beberapa desa, bukit atau sumber mata air yang telah dinamai dan dijadikan objek wisata desa meskipun belum ramai. Seperti bukit baper, sumber mata air sikadu, dan beberapa curug atau air terjun dengan nama-nama yang unik.


TRANSPORTASI
Kami memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Desa Muncanglarang, Bumijawa tepatnya di Sumber Mata Air Sikadu pada tanggal 25 januari 2017 sesuai kesepakatan. Karena pagi hari cukup mendung setelah semalaman bumi Tegal disiram hujan akhirnya perjalanan dimulai agak siang pada pukul 09.00 WIB. Titik kumpul kami tetapkan di Yomani. Karena saya dari Margasari dan kedua teman saya dari Pangkah maka kami memutuskan bertemu di tengah-tengah. Perjalanan cukup terjal sehingga kami memutuskan menggunakan transport umum.

Dari Yomani kami berangkat menggunakan moda Elp (seperti metromini jika di Jakarta) yang bertujuan ke daerah Bumijawa dengan tarif 5.000-10.000/orang . Kurang lebih pukul 10.00 WIB kami berangkat dan turun di Pasar Bumijawa sekitar pukul 10.45 WIB. Ternyata dari pasar ke tempat tujuan tidak disediakan angkutan khusus yang mengharuskan para penduduk menggunakan transport pribadi. Pendatang dapat menggunakan mobil bak terbuka atau Ojek yang tersedia di pasar. Saya menggunakan jasa Ojek saat itu dengan tarif 10.000/orang sampai tempat tujuan. 



OBJEK WISATA SIKADU
Objek wisata ini memang masih sangat alami dan belum tersentuh oleh banyak wisatawan. Letaknya ada di tengah desa. Dari jalan setapak yang ada pendatang digiring turun dan melihat keindahan waduk yang dihiasi oleh jembatan berwarna kuning cerah yang menjadi objek foto para wisatawan yang datang. Di sisi kanan kiri waduk terdapat hutan dengan pohon-pohon yang menjulang cukup tinggi dan diatasnya terdapat perkebunan milik warga. Pada saat itu sepertinya sedang musim panen perkebunan cabai sehingga banyak sekali pohon cabai yang menunduk karena banyaknya buah yang dihasilkan.
Bagi yang ingin melakukan foto dengan pemandangan yang lebih bagus saya sarankan datang cukup pagi agar hutan masih berkabut. Suasananya masih sepi sehingga lebih leluasa. Bagi para pendatang yang ingin berlama-lama bisa membawa bekal sendiri karena penduduk setempat hanya menyediakan camilan kecil yang disediakan bagi wisatawan yang datang. Camilan itu seperti rujak buah, sosis bakar dan makanan instan yang disediakan pada kios dengan meja-meja kayu yang sederhana. Objek wisata ini juga menyediakan peminjaman Bebek Air yang dikayuh sendiri untuk para pendatang yang ingin menikmati suasana waduk.

PULANG
Bagi para muslimah yang hendak melaksanakan solat dzuhur jangan khawatir. Terdapat mushola milik warga yang cukup besar jika naik ke atas dan kembali di titik sebelum turun ke waduk.
Perjalanan pulang kami lakukan dengan menaiki mobil bak terbuka setelah menunggu kurang lebih setengah jam di pertigaan desa. Tarif transport ini berkisar 3000-5000/orang bagi pendatang. Mobil bak ini hanya mengantarkan sampai Pasar Bumijawa tempat semula kami naik Ojek. Setelah itu dapat menggunakan Elp untuk kembali turun sampai ke Yomani.

Demikian sedikit ulasan mengenai perjalanan saya dengan rekan-rekan saya ke Muncanglarang. Barangkali ada teman-teman pembaca yang tertarik dengan Objek Wisata ini. Semoga ulasan saya ini bermanfaat :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Eksistensi Tahu Sumedang, di dalam & di luar “Rumah” sendiri

Hijrah