Hijrah
Di sepenggal kegelapan malam
Diantara kesunyian
antara angin dan rembulan
Mungkin hujan
sedikit
Hati mana lagi yang
tak lebih puas untuk menangis saat ini
Kelegaan mana lagi
yang melebihi kelegaan bersedih dan sedu hanya kepada-Nya saat ini
Air mata mana lagi
yang lebih resap dan bermakna jika bukan di saat seperti ini.
Assalamualaikum
Wr. Wb.
Selamat malam Milenialls.
Mungkin di jam
ini banyak sekali di antara kalian yang lagi tidur, ada yang masih terjaga
dengan laptopnya untuk bikin surat, desain
poster mungkin, desain lain-lainnya yang udah jadi dari kemarin tapi atasan
minta dibenerin padahal salahnya sepele (wkwk gatau apa kalo buka aplikasi
desain dan ngeliat layer lagi itu artinya lu harus berkutat dengan waktu yang
ngga sebentar meski cuma hal sepele yang dibenerin), ngerjain proposal, atau
tugas yang harus dikumpulin besok pagi tapi dari kemarin malas sekali meskipun
banyak waktu luang, atau mungkin masih ada yang sibuk stalking Facebook, twitter, Instagram, dan kawan-kawannya ?.
Mending tidur gih, ntar subuhannya telat.
Guys, di waktu gue nulis ini adalah tahun 2017. Dari sekitar 2 tahunan yang lalu gue merasa kian kemari kian banyak orang-orang yang mulai berhijab. Dari krudung model paris yang bahannya agak tipis, terus keluar krudung segiempat yang agak tebelan bahannya, ada yang rawis, ada pashmina yang booming di 2016, sampe tahun ini banyak beredar khimar-khimar instan yang mendukung para ukhti agar lebih mudah berhijab juga lebih simpel, stylish dan ngga ketinggalan mode.
Kian kemari menggunakan krudung menjadi suatu tren baru di Indonesia, tentunya dengan niatan yang berbeda-beda dari setiap individunya. Ya lumrah juga karena mayoritas masyarakat Indonesia beragama Islam. Jadi gue berfikir semakin kesini semakin banyak orang yang berhijrah menjadi sesuatu yang cukup wajar.
Gue sendiri berhijab di tahun 2014 saat masuk kuliah, meskipun sempet jadi pengurus inti ROHIS di SMK dulu, ngga tau kenapa gue masih kekeh untuk ngga berkerudung hingga saat itu. Yang ada di otak gue saat itu adalah ketidakbebasan apa yang harus gue hadepin saat gue harus menutup diri ? ga boleh ini itu, membatasi ini itu karena gue udah berhijab. Malu kan kalo udah ditutup tapi kelakuannya masih sama. Tapi sedikit demi sedikit gue mulai pake krudung adik gue dan bawa beberapa lembar untuk dipakai ke kampus.
Balik lagi ke tren hijab di Indonesia. Dari yang gue lihat, berhijab pun ternyata masih ada petak-petakannya. Ngga semua yang udah pake hijab lantas jadi satu yaitu menjadi “Muslimah”. Ada mereka yang termasuk dalam golongan “jilbob”, yang kerudungnya pake paris tipis terus dada nya kadang keliatan, ada yang pake jilbab tapi mungkin hatinya belum tetap jadi masih dipasang kadang dicopot, ada yang semi panjang, yaitu krudung tipis tadi didobel biar ga tipis-tipis banget, ada golongan ceruti karena ngga mau ribet, ada golongan pashmina ( biasanya yang pake ini orangnya agak fashionable ), ada turban, ada yang istiqomah pake krudung budeg lebar 2 meter, dan ada juga yang pake khimar. Banyak ya macemnya.
Semua muslimah dengan berbagai macam jenis dan model hijabnya memiliki pendapat dan alasannya sendiri kenapa mereka memilih untuk menggunakan jenis dan model yang mereka pakai. Ada di antara mereka yang keberatan memakai kerudung panjang dan tebal karena harga nya yang masih belum terjangkau, ada yang belum pakai karena hati nya belum tetap, ada yang berpendapat modern ‘yang penting tertutup aurat nya jadi ga tebel dan ga terlalu panjang bukan masalah’, dan lainnya. Kalau merujuk pada ilmu fiqih yang sudah berkembang di Indonesia memang ada ketetapan bagaimana seorang muslimah menutup auratnya. Tapi apakah ilmu itu masif berkembang dan bisa di pahami mereka apalagi yang baru berhijrah ?. Semuanya butuh proses.
Pun gue yang sedikit demi sedikit memperbaiki pengetahuan gue mengenai bagaimana cara berkerudung yang benar. Dulu gue berpikir kalau yang namanya menutup aurat yang penting semua badan tercover sama kain dan cukup untuk menutupi apa yang memang seharusnya ditutup. Pun saat gue sekolah, disaat gue ngga berhijab, dandanan secukupnya saat itu yang ada dikepala gue adalah “ini ngga mengundang hawa nafsu, ngga berlebihan, ngga mengundang orang jahat buat ngerampok”. Saat itu gue masih sering pake kaos dan celana sebetis dengan rambut selalu dicepol, sederhana aja. Tapi setelah agak berumur, siapa yang tahu kalau betis ini, rambut ini, lengan ini memiliki impress yang berbeda bagi lawan jenis ? Setiap orang punya persepsi nya masing-masing. Berawal saat gue kuliah. Karena gue hidup di kota besar yang cukup crowded dengan orang-orang yang ngga gue kenal, mungkin akan lebih aman kalau gue pakai kerudung. Itu adalah saat dimana gue bener-bener berfikir kalau berkerudung itu adalah “kebutuhan”, “beda”, dan ada fungsinya.
Sering gue menemukan orang beropini ekstrim mengenai mereka yang masih ingin berproses. “Pake mah pake aja kali neng, siapatau besok udah ngga ada gimana hayo , kapan makenya ?”. Bersyukurlah bagi para muslimah yang dibesarkan dari keluarga dengan religiusitas tinggi. Mungkin ia sudah sangat terbiasa sama yang namanya hijab sehingga ringan baginya untuk sekedar menutup kepalanya karena sudah menjadi kebiasaan keluarga. Ngga semua orang terlahir dengan kondisi seperti itu. Ada sebagian dimuka bumi ini yang harus bersusah payah memahami apa itu hijab, kenapa harus menutup aurat, bagaimana cara memakainya, berapa uang yang harus keluar untuk mengganti pakaiaan yang sudah ada, dan ada juga yang lama memakai karena benar-benar ingin mengilhami apa sebenarnya hijab itu sendiri.
Ajakan-ajakan untuk berhijab yang terlalu ekstrim jangan sampai menjadikan orang yang memiliki niatan untuk mengilhami itu menjadi terdeskriminasi dan cenderung seperti di takut-takuti. Bukankah islam itu indah karena ajarannya yang halus dan lemah lembut ?. Bukan dengan paksaan, kekerasaan, atau bahkan hinaan apalagi terhadap sesamanya.
Yang gue bahas disini bukanlah tentang mereka yang ngomong berproses tapi cuma basa-basi. Tapi tentang mereka yang tahu kalau step by step yang mereka jalanin benar-benar ditunjukkan oleh Allah dan Allah ridoi mereka agar semakin dekat kepada-Nya. InsyaAllah hal-hal seperti itu ada bagi mereka yang percaya. Terus berdoa agar Allah tunjukin jalan yang benar dan dilunakan hati kita agar mudah berhijrah dan mudah dalam beribadah kepada-Nya.
Orang yang ingin berhijab itu adalah muslimah, dia adalah islam namun bedanya dia belum sempurna dalam memahami syariat dan bagaimana cara berkerudung yang benar. Keberadaannya perlu untuk kita peluk agar ia semakin paham dan tertarik untuk memahami. Bagaimana caranya supaya ia merasa terangkul oleh sesamanya yang sudah melangkah dan berpengetahuan lebih jauh. Menjudge dan berstatment yang memburu-buru mereka untuk berhijrah namun mereka masih belum berniat sama aja kaya ngasih balsem ke luka sehingga luka itu malah jadi perih. Padahal seharusnya luka itu harus di cuci dulu pakai air yang mengalir, dibersihin kotorannya, dilap atau dikasih alkohol supaya higienis, baru ditutup pake perban dan sebagainya sehingga luka itu sembuh dengan sempurna.
Just self reminder, hijrah is not as easy as you say “Hijrah” itself.
Ada baiknya kita mendukung dan memahami mereka yang masih bilang “otewe”. Ingatkan mereka terus dan bimbing. Bukan ditakut-takutin kalau besok mereka bakalan mati. Umur itu urusan Allah guys. Hijrah, ngga semudah lu makein kain ke atas kepala terus nonton tutorial pakai-nya di media sosial. Hijrah itu datengnya dari hati, niat, dan kesungguhan. Cuma orang itu , orang yang bilang mau hijrah dan Allah aja yang tahu seberapa besar struggle dan berapa banyak air mata yang udah keluar untuk sekedar “berubah”. Kita sebagai manusia ngga pantas untuk menghakimi apalagi menghardik. Just a remainder.
Komentar
Posting Komentar