Eksistensi Tahu Sumedang, di dalam & di luar “Rumah” sendiri
![]() |
Pedagang
asongan sedang menunggu pembeli di area Terminal Tanjung Priok, Jakarta Utara,
15 Februari 2020. Credit: Penulis/Arti.
Dari 20 tahun yang
lalu, sekitar tahun 2000, Ia mulai menggeluti profesinya sebagai pedagang
asongan di terminal ini. Ia bersama sembilan orang pedagang asongan lainnya
menjajakannya dari bus satu ke bus lainnya sesuai dengan shift yang telah disepakati. “Kebetulan saya baru mulai jualan jam
3 ini. Di sini ada tiga waktu jualan. Pagi, siang jam 12, dan jam 3 sore,”
terang Ajis saat di temui di ruang runggu penumpang Terminal Bus Tanjung Priok,
Jakarta Utara, Sabtu, 15 Februari 2020.
Dia mendapatkan barang
dagangannya dari penyuplai dengan keadaan sudah rapih. Selain beragam merek
kopi sachet dan termos yang
dibawanya, ia juga menjajakan camilan seperti kacang tanah rebus, telur puyuh
rebus, dan tak ketinggalan, tahu sumedang. Dari ketiga camilan tersebut, Ajis
mengaku tahu sumedang lah yang paling laku. “Iya, yang paling laku biasanya
tahu,” ujarnya sambil menunjuk deretan tahu sumedang yang berderet rapih di
urutan paling bawah dagangannya.
![]() |
Tahu
sumedang dijajakan di area Terminal Tanjung Priok, Jakarta Utara, 15
Februari 2020. Credit: Penulis/Arti.
|
Tampilan kemasan barang
dagangan Ajis memang tergolong sederhana, namun tetap diburu oleh para
penumpang yang hendak bepergian jauh untuk sekedar sarapan atau mengganjal
perut sebelum bus berangkat. Hanya bermodal plastik bening yang membuat makanan
di dalamnya terlihat dengan jelas. Untuk tahu sumedang sendiri dibanderol
dengan harga lima ribu rupiah satu plastik. Di dalamnya terdapat sepuluh buah
tahu sumedang lengkap dengan cabai rawit hijau sebagai pelengkap. Dari luar,
plastiknya terlihat agak kabur efek embun dari tahu panas yang dibiarkan menguap
di dalam plastik.
Di tempat asalnya,
Sumedang, Jawa Barat, kemasan Tahu Sumedang biasanya memiliki ciri khas.
Menggunakan anyaman bambu yang dibuat melingkar menyerupai keranjang. Lalu
dilapisi kertas koran atau alas lain agar tahu tidak berjatuhan. Keranjang ini
bisa dikenal dengan “Bungkeng”. Bungkeng sendiri adalah sebutan yang diambil
dari nama pengusaha yang memiliki usaha tahu sumedang bernama Ong Bung Keng
yang terkenal hingga kini.
Dengan posisi duduk bersila
di depan dagangannya, Ajis menerangkan bahwa tahu - tahu yang ia dapatkan
biasanya berasal dari Karawang. Penyuplai dagangannya berbeda - beda namun
dikoordinir oleh satu orang yang merapihkan dagangan, sehingga Ia dengan
pedagang asongan yang lain tinggal menjajakannya di sekitar terminal.
Dari waktu setoran yang
ditetapkan sekitar jam 8 sampai dengan 10 malam ia mengatakan bahwa barang
jualannya hanya butuh waktu sebentar hingga habis. “Ya, sekitar jam 5an lah
kadang-kadang juga sudah habis,” tambahnya.
Selain Ajis dan
pedagang asongan lainnya di Terminal Tanjung Priok, tahu sumedang juga di jual
menyebar di berbagai daerah lain di Indonesia. Bukan hanya di terminal,
terkadang para penjaja tahu ini juga berada di ruas - ruas jalan yang melewati
Pantai Utara Jawa. Para pedagang biasanya menaiki bus yang lewat menuju Indramayu
atau Brebes, Garut, dan Bandung. Di Jakarta sendiri terdapat puluhan outlet
tahu yang menyebutkan “Tahu Sumedang” pada papan namanya.
Tahu sumedang seolah
menjadi merek dagang yang mudah dikenal dan diingat karena rasa yang lezat dan
gurihnya. Cara pembuatan dan bahannya yang mudah ditemukan membuat orang lain
di luar daerah Sumedang dapat meniru dengan berjualan produk yang sama dengan
melihat resepnya di Internet atau melalui buku – buku resep masakan yang
tersedia di toko buku. Meskipun sama – sama menggunakan kedelai, tahu sumedang
seakan memiliki cita rasanya sendiri yang khas di lidah penggemarnya.
Berbeda dengan tahu
lainnya yang memiliki isian padat dan lembut. Tampilan tahu sumedang sangat
khas dengan kulitnya yang berwarna cokelat karena digoreng kering dan isiannya
yang berongga. Menggoreng tahu sumedang membutuhkan lebih banyak minyak
dibanding tahu lainnya. Gunanya untuk menguapkan air yang tersisa selama proses
penggaraman. Kualitas tahu sumedang sangat bergantung pada panasnya minyak dan
lamanya waktu proses menggoreng. Semakin lama tahu digoreng sekitar 5 sampai
dengan 10 menit, maka tahu akan semakin kering dan lebih awet. Kadar air yang
berada di dalam tahu cukup memengaruhi lamanya tahu untuk dapat dikonsumsi. Ya,
dibandingkan tahu lain, tahu sumedang memang cukup riskan. Rasanya yang gurih
akan berubah menjadi keasaman jika terlalu lama dibiarkan, serta kulitnya yang
garing akan berubah menjadi liat.
Keberadaan Ajis dan
pedagang kecil lain yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia cukup
membantu para penggemar tahu sumedang menikmati makanan khas daerah Sumedang,
Jawa Barat ini di area terdekat. Jika dilihat dari mesin pencari, terdapat
puluhan outlet tahu sumedang di Jakarta dan di kota – kota besar lainnya. Belum
lagi kemudahan layanan antar yang menjadikan tahu sumedang ini mudah digapai
menggunakan gawai atau aplikasi online.
Dalam sejarahnya, Tahu
sumedang telah dikenal luas masyarakat sejak tahun 1928. Sejak Pengeran Soeria
Atmadja yang tak sengaja lewat menggunakan dokar dalam perjalanannya menuju daerah
Situraja, Sumedang. Melihat seorang kakek yang tengah menggoreng sesuatu sang
pengeran penasaran mencicipi tahu buatan Ong Bung Keng dan puas dengan rasa
yang ditawarkan. Ketika ditanya, Ong Bung Keng menjelaskan sebisanya bahwa
makanan yang ia goreng adalah tahu. Sejak saat itu tahu mulai digemari oleh
penduduk lokal dan masyarakat daerah lain hingga saat ini.
Melalui tahu ini, nama
Sumedang seakan familiar didengar dimanapun. Tahu kulit berwarna coklat yang
beredar solah semuanya berasal dari daerah yang sama, Sumedang. Namun, hal ini
tak selaras dengan realita penduduk asli daerah Sumedang yang tak banyak
berwirausaha memanfaatkan potensi yang ada. Melalui artikel Pemerintah Kabupaten
Sumedang, Ketua HIPMI Cabang Sumedang, Hendra Nugraha, malah mengungkapkan rasa
prihatin karena produk asal daerahnya terkadang dipamerkan oleh daerah atau
negara lain. Hal ini sama halnya produk Sumedang yang beredar di daerah di luar
Sumedang membuat taraf pendapatan masyarakat lokal juga tidak berdampak
signifikan. Banyak penjual atau masyarakat daerah lain yang dapat memproduksi
sendiri tahunya tanpa harus menyuplai langsung dari Sumedang.
Di daerahnya, tahu
sumedang merupakan bisnis turun – temurun yang diwarisi oleh keluarga Ong Bung
Keng. Hingga kini, sekitar 102 tahun bisnis keluarga tersebut berjalan. Cikal
Bakal tahu yang ditemukan oleh Ong Bung Keng pertama kali pada tahun 1917 kini
diwarisi oleh generasi keempat yakni Ong Che Ciang alias Suriadi.
Hingga saat ini bisnis
warisan Ong Bung Keng tersebut memiliki enam outlet. Lima outlet di Sumedang
dan satu outlet di Bandung. Toko yang terkenal yaitu terdapat di Jalan Raya 11
April, Sumedang, tempat produksi pertama kali. Namun sayangnya, sejak tahun
2016 hingga kini permintaan tahu sumedang kian lesu. Suriadi berpikir alasan
turunnya produksi tahu yang dijual karena daya beli masyarakat yang menurun.
Namun sebab itu juga belum dapat dipastikan.
“Jaya-jayanya tahu
sumedang itu sekitar tahun 1980-an. Dan sampai tahun 2015-an permintaan masih
tetap tinggi. Tapi sejak tahun 2016, penjualan mulai lesu. Penyebabnya apa
kurang tahu juga, mungkin karena daya beli masyarakatnya turun atau karena apa kurang
paham juga” sebut Suriadi seperti yang dikutip dari Kompas.com
Bukan hanya tahu,
Sumedang sebenarnya juga merupakan daerah di Jawa Barat yang kaya akan potensi
pariwisata. Mulai dari berbagai macam tempat pariwisata alam, wisata buatan,
wisata kuliner, kesenian, museum, dan lain sebagainya. Contohnya adalah, wisata Kampung Toga, Curug
Cinulang, Museum Prabu Geusan Ulun, Wisata Air Gajah Depa, Perkebunan Teh
Margawindu, dan masih banyak lagi. Potensi wisata kreatif tersebut dapat
dijadikan pendapatan daerah. Didukung pula letaknya yang tak jauh dari Ibukota
Provinsi, yakni Bandung. Sumedang dapat menjadi destinasi pariwisata yang cukup
menjanjikan.
Dengan memanfaatkan
potensi pariwisata yang ada, dapat meningkatkan minat masyarakat dari daerah
lain untuk berkunjung. Potensi ini dapat dijadikan sasaran bagi masyarakat yang
bekerjasama dengan pemerintah daerah untuk meningkatkan pendapatan daerah.
Terutama pendapatan masyarakat lokal. Hal ini berimplikasi pada penjualan tahu
yang mungkin akan lebih meningkat selaras dengan jumlah pengunjung pariwisata
yang berdatangan.
Potensi ekonomi kreatif
di Sumedang tersebut dapat didukung dengan pemberdayaan masyarakat dan anggaran
dari pemerintah daerah terkait pengembangan pariwisata atau usaha kecil
menengah yang menjadi pemasukan masyarakat. Bukan hanya di pusat kota,
diharapkan sosialisasi akan pemberdayaan dan penyaluran dana pengembangan dapat
memasuki desa – desa sehingga terdapat pemerataan penghasilan.
Merujuk pada
Katadata.com, sejak 2015, dana desa mulai diimplementasikan untuk meningkatkan
ekonomi dan kesejahteraan masyarakat desa. Alokasi dana tersebut ditargetkan
selalu meningkat disetiap tahunnya. Peningkatan ini diharapkan akan semakin
mengembangkan ekonomi kreatif yang telah ada di berbagai daerah di Indonesia,
khususnya Sumedang. Terutama produksi tahu, diharapkan bukan hanya pada 1
produsen saja namun juga memberdayakan lebih
banyak lagi masyarakat untuk ikut berkontribusi.
Jika dilihat, produsen
tahu yang paling dikenal adalah milik warisan Ong Bung Keng yang merupakan
tradisi keluarga turun – temurun. Maka dana desa tersebut dapat disalurkan
dengan investasi pada usaha dengan harapan outlet yang dikembangkan bisnis ini
semakin berkembang. Dengan syarat pastinya pengembangan sumber daya manusia
serta perekrutan tenaga kerja yang didapuk dari warga sumedang sendiri. Bersama
dengan pemerintah mengembangkan warisan cita rasa khas yang telah melebarkan
nama daerah Sumedang hingga dikenal sampai saat ini.
Sehingga diharapkan
potensi penjualan tahu sumedang di dalam daerah sendiri lebih banyak diburu.
Meskipun, tahu sumedang dapat ditemukan di daerah – daerah lain. Namun,
kekhasan tahu dari tempat asalnya serta ketertarikan pada potensi wisata lain
yang disajikan dapet menjadi daya tarik tersendiri untuk mengunjungi Sumedang.
Referensi :
Databoks.Katadata.co.id
Pemerintah Kabupaten
Sumedang. Kec.sumedang.go.id
https://regional.kompas.com/read/2019/11/04/12150041/tahu-bungkeng-perintis-tahu-sumedang-bertahan-102-tahun-karena-air-tanah?page=all
https://regional.kompas.com/read/2019/11/04/12150041/tahu-bungkeng-perintis-tahu-sumedang-bertahan-102-tahun-karena-air-tanah?page=all


Komentar
Posting Komentar