Thankfull



Hai Assalamualaikum wr. wb.

Gue baru banget dateng di kosan sepulang ngajar Etika Profesi ngebahas kasus Asian Agri tadi, langsung buka leptop karena gue selalu lupa untuk cerita. Beberapa bulan ini, baik pagi maupun sore hari, gue sering banget nemuin sosok anak kecil (laki-laki) yang agak besar badannya dan doi sering tidur di jembatan penyeberangan belakang kampus. Gue ketemu karena setiap ngajar atau pulang ngajar memang pakai Transjakarta jadi pasti lewat sana. Setiap dia tidur lelap banget kayaknya padahal pembatas jembatan bagian bawah itu ngga tertutup rapat alias desainnya emang bolong dan bolongannya cukup besar. Jadi bisa aja kalau dia gerak agak banyak bakalan jatuh. 

Tapi bukan itu yang mau gue omongin kali ini. Gue beberapa pekan lalu pernah sedikit ngobrol sama dia. Pakaiannya lusuh banget padahal saat itu pagi-pagi. Biasanya jam segitu jembatan penuh sesak dengan mahasiswa atau pekerja yang rapih dan berbau wangi. Kebetulan doi jualan tisu. Alibi gue beli tisunya sekalian gue pengin nanya-nanya karena penasaran. Kenapa gue penasaran ? padahal kalau diliat luarannya banyak banget emang anak yang seperti dia dan berkeliling jualan tisu di area kampus. Tapi dari cara dia nawarin produknya yang ngga “memaksa”, ngga minta “dikasihanin”, dan ternyata harga yang dia tawarkan cenderung “normal” ngga seperti penjual anak-anak yang sering gue temuin. 

Pagi itu gue nanya seputar background keluarganya, kok bisa sepagi itu dia udah berkeliling dengan pakaian yang lusuh.Padahal hari itu hari kerja, seharusnya pada normalnya anak seusia dia lagi sibuk pakai kaus kaki dan seragam atau makan sarapan bikinan mama nya yang masih mengepul sambil nonton kartun di channel televisi khusus anak-anak. But,normal life doesn’t work at all for him in that morning.Dia bahkan belum ketemu mama nya pagi itu, karena mama nya berkeliling nyari sampah untuk sekedar nambah uang makan dan dia di target untuk dapat laba dari penjualan tisunya perhari “sekian” (gue ngga mau nyebutin nominalnya). Adik nya sakit keras dan ayahnya udah wafat. 

Entah dia inget gue atau engga, karena setiap hari yang ia temuin bukan sekedar teman sekelas atau beberapa guru mata pelajaran yang jumlahnya ngga seberapa. Tapi yang dia temuin per hari bisa “ratusan” muka. Yang jelas gue selalu inget cerita dia. Sekedar menjadi alasan kenapa gue harus selalu bersyukur. Meskipun gue ngga bisa liat wajah ortu setiap pagi, tapi denger keadaan mereka sehat via telepon aja gue udah seneng. Tidur di atas kasur. Setiap kali ngelewatin dia lagi tidur gue selalu tutup mata, sekedar pengin denger kebisingan seperti apa yang dia hiraukan di sekeliling, sedangkan dia lagi berusaha melepas penat. 

Berbanding terbalik dengan pengalaman gue saat menjadi fasilitator sebuah kegiatan motivasi bagi anak sekitar 2 minggu yang lalu. Di saat itu gue bertemu dengan ratusan anak kecil dan sekitar sepuluh anak asuh yang harus gue fasilitasi. Biaya untuk mendaftarkan seorang anak di kegiatan itu lumayan besar tapi worth lah menurut gue. Aktivitasnya cukup bagus. Di kegiatan itu anak di arahkan untuk tahu apa itu mimpi dan bagaimana cara mereka merealisasikan mimpi mereka itu. Di ajarkan hal-hal yag berbau kebaikan. Pakaian mereka necis dan tata berbicara serta perilakunya juga bagus. Entah kenapa akhir-akhir ini gue sering banget ketemu anak-anak. Ketemu mereka bener-bener membuat gue membuka mata.

 I found so many differences between their behaviour, how they’re speak, their difference feelings, how they’re act to something ,and know what reason that can make they’re look so difference.

Kasih sayang. Perhatian. Pendidikan. Lingkungan. Temen pergaulan. Dan mungkin masih banyak lagi.
Asking to my self. Jangan jadikan ke lima hal itu jadi variabel indikator skripsi yang akhirnya hanya mandeg di rak perpustakaan kampus. Noted.

Saat ini gue sedang mengilhami apa peran gue sebagai mahasiswa pendidikan dan orang yang sedikit belajar tentang ekonomi. Gue sedang mengilhami apa arti kata “agent of change” yang sering gue denger sebagai julukan bagi para mahasiswa. Melihat hal lebih jauh dan dunia luar yang sangat-sangat terbuka. Merubah sedikit persepsi tentang laba dan rugi bagi diri sendiri dalam berbagai hal. Karena seberapa banyakpun laba yang kita terima dalam hidup ini, setiap hari, sebenarnya ada hak bagi kita untuk berbagi. Kehidupan ini, masa depan ini, pendidikan gue ini, mungkin tuhan mudahkan bukan hanya untuk memperoleh pekerjaan, bukan hanya sekedar untuk cari uang untuk renovasi rumah, bukan hanya untuk nambah uang makan, siapatau gue ditakdirkan punya kesempatan lebih dari itu.

See you arti, semoga beberapa tahun lagi gue masih bisa baca lagi tulisan ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Eksistensi Tahu Sumedang, di dalam & di luar “Rumah” sendiri

Objek Wisata SIKADU, Muncanglarang, Bumijawa, Kabupaten Tegal

Hijrah