Timeline Effect
Dari gue jaman sekolah dulu sering banget ikutan lomba. Bukan
gue yang pengen, lebih banyak dari lomba yang gue ikutin itu karena emang ngga
ada temen kelas yang mau maju lagi. Alesannya karena menyita waktu-lah, ngga
bisa lah, banyak pe-er lah, dan lain-lain. Akhirnya gue ‘dikorbanin’, gue sadar
itu. Tapi, se-pasrah nya gue selama ini sebenarnya gue nyadar apa yang lagi gue
lakuin dan apa yang bakal gue hadepin. Gue selalu takut dengan tantangan dan
malas untuk mencoba. Tapi kalo dikasih, ya gue akan terima dan berusaha. Gue
emang gitu orangnya.
Yang ga disangka gue inget banget waktu itu ‘dikorbanin’ buat
ikutan lomba cerdas cermat Bahasa Indonesia saat baru banget adaptasi sekolah
dan ternyata menang, dikorbanin lagi buat lomba lain –bukannya sombong—eh
menang lagi, dan seterusnya.
Sebenernya bukan itu yang mau gue ceritain kali ini. Untung
lagi kepikiran, kemarin sempat ditanya seorang teman saat kita lagi sama-sama stalking di Instagram. Tiba-tiba dia
nanya, “Ti, lu tau berita ini ga ?”, gue jawab, “Gue ngga suka ngomongin itu,
jadi gue ga terlalu mau tau.”. Terus dia nanya lagi, “Ti, lu tau lagu ini ga ?
Ini lagi booming loh.”, gue jawab,
“Yah, gue update nya lagu hiphop korea”. Tapi setelah itu gue
penasaran juga sama yang dia tanyain, gue coba baca beritanya, dan dengerin
lagunya, ternyata enak juga. Terus dia nanya lagi, “Emang yang lu follow apaan sih ti ? Korea semua ya ?”,
ya ngga juga sih. Gue malah udah hapus akun-akun yang berbau negara serba
boy/girlband itu dari setahun yang lalu. Paling beberapa akun kaya SMTM, Mnet,
dan YGent gue masih keep karena gue
masih suka.
Terus apaan aja yang lu follow ?
Menanggapi pertanyaan ini gue jawabnya agak serius. Jadi,
ceritanya gue setahun yang lalu sempat mental
breakdown dan kurang motivasi, itu sih analisis gue waktu itu. Gue ngga
pede dengan apapun yang gue lakuin, ga tau gimana orang melihat gue, gue selalu
menilai diri gue sendiri bodoh banget. Pada suatu hari gue ditanya tentang
suatu berita oleh seseorang, dan gue kelabakan ngejawabnya. Tapi gue berusaha
jawab dengan santai dan jelasin sebisanya. It’s
okay, gue berhasil, tapi kondisinya gue tau kalo sebenernya ada yang salah
sama diri gue sendiri.
Gue mahasiswa, apalagi gue lagi ikutan pers kampus saat itu,
malu, kalo gue ngga bisa jawab dan beropini tentang isu terbaru di negara gue
sendiri, apa lagi gue ada di Ibu kota, segala macam berita pemerintah pusatnya
ada di sini. Malamnya, gue coba liat handphone
dan buka medsos. Gue liat timeline
gue yang mainstream dengan semua
berita yang ‘gue mau’ dan ‘gue suka’. Di situ gue ngebatin, “Ngapain gue
ngikutin ini ? Penting ngga sih ? Apa sekedar penasaran aja ?”, dengan Bismillah akhirnya gue hapus-hapusin deh
beberapa akun yang gue anggap mubadzir namun memberikan effect berarti karena ngeliat-nya di timeline gue setiap hari. Yang gue tahu,ya,apa yang akun itu kasih.
Tanpa sadar apa yang kita ikutin itu ternyata mempengaruhi pola pikir kita,
karena itulah yang akan kita lihat setiap hari.
Tiba-tiba gue iseng buka akun seseorang yang cukup
berpengaruh di Indonesia, gue liat apa sih yang dia follow ?. Setelah gue libas akun-akun yang sempat mewarnai hidup
gue kemarin itu, gue beralih untuk megikuti apa yang diikuti oleh orang yang
menurut gue memang cukup berpengaruh ini. Gue penasaran dengan apa yang ada di timeline dia setiap pagi, apa yang dia
suka, dan apa yang ada di pikirannya dengan semua info dari akun-akun itu.
Kebanyakan tentang akun mengenai ekonomi, isu nasional maupun
internasional, nasa, dan sebagainya. Gue nikmatin itu dan lihat perubahan
pandangan gue setelah beberapa bulan. Gue jadi lebih tahu dan update berita yang lebih bermanfaat, gue
bisa cerita hal yang lebih penting ke temen-temen yang lain, dan merasa percaya
diri dengan apa yang gue tau.
Gue sempet lupa kalau gue orangnya cukup peniru, gue
menempatkan orang yang gue kira bisa dijadikan contoh dan belajar dari itu. --
Relasinya dengan paragraf awal -- Gue pernah sadar hal ini saat SMK, gue
memanut seseorang masa itu, setiap kali gue dikasih kesempatan lebih untuk show up, gue yang agak pemalu selalu
liat orang itu sebagai contoh, setiap kali liat dia gue selalu penasaran dengan
apa yang dia pikirkan, gue pikir gue juga pasti bisa kaya doi. Tapi setelah dia
lulus gue agak kehilangan panutan dan mulai serampangan lagi, di kuliahan, gue
belum bisa menemukan orang seperti itu.
Sampai akhirnya gue ingat lagi dan nulis tentang hal ini,
sebenernya kita sebagai manusia butuh setidaknya satu motivator yang bisa kita
jadikan contoh. Jangan belagu atau terlalu percaya diri dengan kemampuan kita
sendiri, seorang yang menginspirasi pasti dapat inspirasi itu ga cuma-cuma dan
karena dia sendiri. Apalagi gue yang bukan apa-apa, pasti gue butuh arahan dan
contoh yang bisa gue ikutin. Karena saat ini medsos menjadi makanan setiap
hari, jika memang itu rutin, maka kalau kita udah ngerasa ada yang salah dengan
apa yang kita ikutin, gue berharap kita semua bisa bijak dan ga keras kepala
untuk sekedar ‘merubah diri’. Apa yang gue rasa kemarin-kemarin itu, gue malu
sama diri sendiri, dan malu sebagai penyandang gelar Mahasiswa yang kondisinya
gue menutup diri hanya karena gue cuma-mau-tau-apa-yang-gue-suka
Komentar
Posting Komentar