Milennial Influencer



Hai Assalamualaikum teman-teman. 

Kali ini gue akan cerita tentang pengalaman gue selama ngajar di kelas, tepatnya di kelas 12 dan kelas 10 SMK di daerah Gambir, Jakarta. Kalo dihitung-hitung hari ini, berarti gue udah sekitar dua bulan “nebeng” di sekolah itu. Ya, gue lagi numpang praktik mengajar di sana selama satu semester. Gue ngajar Jurusan Akuntansi dan menghandle 3 mata pelajaran, yaitu Akuntansi Manufaktur, Dasar Perbankan, dan Etika Profesi.

Selama dua bulan praktik di sana gue harus menyiapkan materi pelajaran setiap hari. Ya walaupun gue udah pernah dapet pelajaran-pelajaran itu selama sekolah maupun di perkuliahan, gue tetep harus menyesuaikan kemampuan anak-anak didik gue dong. Gimana cara belajar mereka, apakah visual, audio visual, kinestetik, dan sebagainya. Gimana caranya supaya mereka bener-bener paham dengan apa yang gue sampaikan. Sulit. That’s a word can describe how is my feeling now. Kalo boleh ngeluh, gue harus berfikir semalaman tentang apa yang harus gue lakuin besok ?, deg-degan setiap pagi, dan struggling saat ngajar supaya mereka bisa kondusif tapi enjoy, ngga tertekan. Padahal jam pulang ngajar itu sore, disambi bikin RPP, macet, sampe kosan udah lelah, belum harus ngerjain tugas organisasi, kerjaan, ada agenda ketiduran segala haha. Tapi gue ketawain aja. Semua ini pasti selesai !!!.

Ini diary gue kan ya ? haha jadi terserah ya gue mau nulis apa.

Pagi ini sambil minum kopi dan makan roti gue mikir, pagi gue harus berfaedah nih. Yaudah, gue mau review tentang kondisi anak kelas yang gue ajar aja. Sebenernya kalau kalian anak pendidikan pasti udah mainstream untuk bahas tentang Rencana Pembelajaran, tapi mungkin ada anak jurusan lain yang baca tulisan gue. 

Jadi kalau kita ngajar itu sebenernya ada Perencanaannya, kita memanggilnya RPP ( Rencana Pembelajaran). Ya, sebelum kita mulai ngajar kita harus bikin Program Tahunan, Program Semester, menganalisis Kompetensi Dasar dan Kompetensi Inti apakah kompetensi itu sudah sesuai atau belum dangan kondisi sekolah dan anak didik kita, dan perangkat pembelajaran lainnya. Ngasih materi bagi seorang guru itu juga harus dikondisikan, ngga asal lu udah bikin materi ini yaudah gue mau nyampein ini aja. Ngga begitu. Kita harus analisis apakah materi itu terlalu ketinggian, terlalu sulit, atau terlalu mudah bagi anak. Apakah media di kelas ada dan tersedia untuk proses belajar ? Apakah anak mampu menangkap yang kita kasih ? Kita yang menganalisis itu, guru, bukan Kepala Sekolah, Tata Usaha atau bahkan Kementrian Pendidikan. Kenapa ? karena kita yang turun ke lapangan langsung. Dengan kata lain, guru lah yang lebih paham dengan kondisi di lapangan, di kelas, bagaimana sikap dan pemahaman anak didik kita satu persatu.

Ceritanya, gue kemarin sambil piket jaga perpus sekolah sambil ngobrol sama penjaga perpus sekolah itu yang juga adalah guru umum di sana. Dia cerita tentang perbedaan cara siswa menangkap materi yang dia kasih. Karena beliau adalah guru umum, jadi beliau bisa masuk ke jurusan satu dan jurusan lainnya. Disana ada 4 jurusan yaitu Akuntansi, Perkantoran, Multimedia, dan RPL. Dia cerita tentang bagaimana susahnya menyampaikan satu materi yang sama ke anak RPL jika dibandingkan dengan anak perkantoran. Dan bagaimana seriusnya anak Akuntansi serta ramai-nya anak Marketing/pemasaran. “Ya, bener juga sih. Kalau anak Marketing ngga rame nanti produknya ngga laku kan ?” , katanya sambil bercanda.

Kadang untuk menangani ketidak-enjoyan anak-anak beliau melakukan Ice Breaking di tengah pelajaran. Tujuannya untuk me-refresh otak anak-anak. Tapi yang namanya ga suka, kadang Ice Breaking yang guru anggap bakalan rame aja pas realisasinya ternyata krik-krik. Wkwkkw. 

Hmmm. Gue pernah ngalamin itu. Pas gue mau ajak anak-anak untuk Talking Stick, di metode itu anak didik seharusnya menyanyikan suatu lagu pengantar supaya teknis pemutaran stick nya ngga “sepi”. Pas gue tentuin lagunya “cublak-cublak suweng” atau “ampar-ampar pisang” yang menurut gue compatible dengan usia mereka dan permainannya, ternyata mereka ngge terlalu menikmati. Mereka malah minta untuk pakai lagu-lagu barat dan lagu Hiphop yang lagi booming sama youtuber Indonesia saat itu. Gue sebagai guru di saat itu agak terganggu dengan hal tersebut, karena posisinya gue tahu bagaimana isi lirik dan esensi dari lagunya tidak cukup “baik” untuk anak seusia mereka. Tapi disana gue ngga bisa dong marahin mereka dengan apa yang mereka suka atau menunjukkan sisi penolakan yang terlalu berlebihan. Gue menolak lagu itu dengan penyampaian yang lain. Meskipun udah ngga gue bolehin, tapi di luar kelas gue masih mikirin.

“How massive is that social media has influence my under age students ?. And how millennials so easy to acces all things they like and agree with all things their idol had given and publish (?).”

Gue sedih. Haha berlebihan banget. Ngga, gue cuman miris aja sih lebih tepatnya. Di usia mereka saat itu gue masih pake Handphone nokia yang 2G, internetan di perpustakaan daerah tapi yang gue buka palingan cuma Facebook untuk berinteraksi dengan teman jauh, cari materi untuk lomba atau sekedar belajar dan baca Wikipedia. Membosankan ? But, I think thats work. Dengan kehidupan siswa yang sederhana itu sedikit sekali potensi anak-anak yang pakai kacamata karena terlalu banyak melihat ke layar seperti sekarang ini. Percakapan di sekolah tentang pelajaran atau hal lain yang lebih sesuai dengan umur mereka. Etika dan moral yang lebih lembut sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia yang sopan santun dan lemah lembut dalam berbicara. Keberanian ke arah hal yang lebih positif, bukan “berani” untuk nakal karena mencontoh idolanya. 

Kok berlebihan banget sih, cuma karena lagu ?

Gue ngga mempermasalahkan lagu dan seni yang beredar mudah saat ini. Menggunakan sosial media yang ada. Muncul tokoh-tokoh dan artis-artis baru. Toh gue juga suka musik, gue suka hiphop yang pada umumnya lirik hiphop apalagi hiphop barat yang “swag” itu ya yang banyak kalimat diskriminatifnya, banyak kata-kata ngga senonohnya. But, as long as this I keep filtering what I hear. Kenapa gue bisa memfilter itu ? ya karena sekarang gue udah dewasa, udah berumur wkwk. Dulu pas sekolah, sama sekali gue ngga berani download lagu atau nonton film yang ngga gue kenal apa lagi film barat, kecuali itu udah di recommend sama teman dan udah di pastikan itu aman. Ada ketakutan yang luar biasa kalau gue nonton apa yang ngga dibolehin ortu. Ada rasa malu kalau gue bohong.

Sekarang gue sadar, hal-hal seperti itu yang dulu gue anggap kecil dan berlebihan dilakukan oleh guru dan orang tua ternyata cukup berdampak. Sekedar menanyakan, apa yang lagi ditonton anak, mengecek folder komputer atau handphone apakah ada hal-hal yang ngga diperbolehkan, atau sekedar menegur “Hayo ngga boleh ngomong kaya gitu”. That’s so meaning

Itu dari sisi keluarga atau lingkungan terdekat ya. Perhatian itu cukup penting. Cukup mempengaruhi pembentukan kepribadian anak. Apalagi orang tua, gue dapat membandingkan bagaimana perilaku dan sikap teman-temen gue yang orang tuanya sekedar berwirausaha di rumah dan yang kantoran sampai malam. Bagaimana mereka yang broken home dan bagaimana yang orang tuanya selalu mengantar jemput di sekolah atau kampus. Ada yang jutek, manja, galak, sensitif, arogan dan sebagianya. 

Sekarang dari sisi Influencernya. Di hari gue nulis ini adalah era nya youtuber sedang merajalela. Youtube bagi mereka yang punya channel dan punya subscriber yang lumayan bisa jadi ladang mata pencaharian dengan modal “keep uploading many creatif content”. Sasarannya adalah orang-orang yang suka dengan konten itu. Ada yang tentang makanan, fashion, beauty, travel, comedy, music, life style, dan sebagianya.
Gue mengapresiasi semua kratifitas para influencer di zaman millenial ini. Mereka memberikan inspirasi segar bagi remaja yang belum tau arah mereka suka apa dan hobi mereka mau di salurkan kemana. Thats a point, kalau memang sasarannya adalah anak muda yang masih buta dengan masa depan mereka, berarti para influencer ini cukup bertanggungjawab dengan “pengaruh” yang akan atau sudah mereka berikan kepada anak-anak bangsa ini (?).

Ini diary gue kan ya ? haha jadi terserah ya gue mau nulis apa.

Pas gue nulis kalimat itu gue jadi mikir it’s okey bagi gue karena gue bukan siapa-siapa, dan kayaknya blog ini juga jarang ada yang baca wkwk. Tapi bagaimana jika para Influencer yang ada di Indonesia berfikiran seperti ini, “Ini media mosial gue kan ya ? Jadi terserah gue dong mau posting apa ?”. 

Melihat contoh kecil anak didik gue yang ternyata tahu dengan kalimat dan lagu yang seharusnya belum boleh mereka tahu atau dengar, gue jadi membayangkan jika ternyata di belahan Indonesia lainnya yang katanya terdapat beribu-ribu pulau dan berkilo-kilometer daratan terdapat jutaan anak lainnya yang menonton dan terobsesi dengan perilaku dan hal-hal di luar pengetahuan para Influencer itu. Mereka itu adalah benih, apalagi di usia sekolah yang masih labil dalam memilih panutan. Setidaknya dengan berfikir, berapa banyak anak yang akan melihat dan memberikan konten yang lebih bermanfaat dengan memikirkan apa yang akan di lihat oleh para followers atau subscriber mereka sudah menjadi ”tanggungjawab kecil” yang cukup berpengaruh bagi anak. 

Sekarang dari sisi anak-anak ibu yang ibu sayangi dan ibu banggakan, semoga kalian kelak tumbuh dengan baik. Kurangi penggunaan sosial media karena saat dewasa nanti kalian akan memiliki waktu luang lebih banyak jika kalian mau. Sosial media adalah sebuah wadah positif jika kalian bisa mencari celah dan tahu makna sebenarnya, tapi juga bisa menjadi ladang pengaruh negatif kalau apa yang kalian lihat dan ikuti dari media itu kurang tepat sasaran. Komunikasi dengan orang tua cukup perlu, tanyakan apakah ini boleh atau tidak di konsumsi oleh kalian. 

Udah ah, kopi nya udah abis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Eksistensi Tahu Sumedang, di dalam & di luar “Rumah” sendiri

Objek Wisata SIKADU, Muncanglarang, Bumijawa, Kabupaten Tegal

Hijrah