Farmer Vs Petani



Definisi kaya yang melekat pada identitas Indonesia pada nyatanya hanya hal abstrak yang mengiang di pendengaran para siswa. Tanah yang subur dan budaya yang beragam hingga ke pelosok negeri tak lantas menjadikan penduduknya makmur secara merata. Kini mari kita tengok jumlah angka kemiskinan yang tercatat pada Badan Pusat Statistik (BPS) yang tergambar naik pada akhir Maret kemarin. Sebanyak 27,77 Miliar penduduk Indonesia diklasifikasikan sebagai masyarakat miskin yang menandakan adanya kenaikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang berada pada angka 27,76 orang.

Pertambahan penduduk yang kian kemari kian naik karena adanya angka kelahiran dan kematian. Di sisi lain kesejahteraan penduduk makin kemari hanya berjalan stagnan. Namun, angka kesejahteraan tak melulu harus menyalahkan kelahiran dan kematian. Prospek kerja dan budaya masyarakat yang tradisional kian kemari makin tergerus globalisasi. Rasa kepercayaan diri yang terbentuk karena modernitas tanpa disadari ternyata mengikis kebudayaan tradisional.

Sebagian orang mengabaikan dan terus mengikuti arus globalisasi yang dipikir trendy. Masyarakat kian gemar memakai dan memamerkan produk – produk eksklusif keluaran merek luar negeri. Perilaku konsumtif yang tak disadari mengurangi peluang para pengusaha lokal. Peluang pengusaha atau produsen nasional yang berbanding lurus pada peluang banyak para tenaga kerja potensial lokal yang seharusnya sejahtera karena dapat bekerja di negara nya. Dengan demikian peluang pekerjaan makin sempit dan jumlah kesejahteraan menjadi sedikit. 

Mengutip kabar yang ditulis oleh Tribunbisnis pada akhir 2016 lalu, impor beras yang dilakukan Indonesia kian melonjak hingga angka 1,2 juta ton. Apa yang terjadi pada negara yang sempat mencapai swasembada pangan pada 1980-an ini ?. Jangan sampai Indonesia didapuk menjadi negara agraris yang miris. Negara yang beberapa puluh tahun lalu tengah membuat Portugis dan Belanda tergila-gila, kini menurut beberapa sumber memprediksi profesi para petani akan punah sekitar 50 tahun lagi.

Entah kemana hilangnya nasionalisme para mantan murid yang sudah di gembleng sejak sekolah dulu. Perilaku konsumtif pada produk luar sebenarnya bukan hanya berdampak pada perorangan saja. Jika sadar, hal tersebut akan mempengaruhi pada pendapatan nasional begitupun dengan pendapatan dari sektor pajak yang berkurang. Pajak yang berkurang berbanding lurus dengan mengempisnya kantong  bagi dana pembangunan. Menjadikan pembangunan negara terhambat.

Namun evaluasi juga perlu dilakukan oleh para produsen lokal negeri ini. Ketertarikan konsumen pada produk luar tidak semata mata karena nama yang terkenal atau eksistensi nama produk ‘luar negeri’ yang mendampingi. Pastinya kualitas, mutu dan pengemasan produk yang kurang ’berani’ dan masih setengah-tengah harus terus di benahi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Eksistensi Tahu Sumedang, di dalam & di luar “Rumah” sendiri

Objek Wisata SIKADU, Muncanglarang, Bumijawa, Kabupaten Tegal

Hijrah