Resensi Buku Eddie Widiono, di Bawah Pusaran Media
![]() | |
| Dok. Pribadi |
Buku ini menyajikan beragam
analisis mengenai tingkat keberpihakan media di Indonesia dalam
mengemban amanahnya. Idealnya media
melahirkan produk-produk jurnalistik yang independen, netral dan
seimbang. Namun realitas yang sesungguhnya menunjukkan bahwa tidak
ada obyektivitas yang mutlak pada media.
Firman Yusrak dkk
dalam buku ini mencoba
menganalisis satu-persatu sudut pandang penulisan dan sumber berita
mengenai kasus dugaan korupsi pada Eddie Widiono sebelas tahun silam.
Kasus ini dinilai cukup menarik karena banyaknya media
yang memuatnya dengan warna-warni sudut pandang. Namun
sayangnya, kebanyakan media yang ada saat itu lebih menampilkan
opini dari penegak hukum, aktivis dan aparatur negara yang cenderung
mendiskreditkan Eddie. Para awak media sedikit memberi kesempatan
pada PLN dan Eddie untuk berkomentar dan mengonfirmasi. Baik
itu koran, majalah maupun tajuk rencana, semuanya dibahas dengan
dilengkapi lampiran tulisan media yang bersangkutan di halaman
penutup.
Di negeri ini, keampuhan media
baru terlihat seketika setelah Preside Soeharto mengundurkan diri
pada 21 Mei 1998. Berbagai tokoh, besar dan kecil, rontok dan jatuh
dari kursinya. Sedikit banyak hal itu dipengaruhi oleh kekuatan media
massa. Louis Althusser ( seperti dikutip Al Zastrouw 2000 ) pada 1971
telah menempatkan media masa dalam hubungannya dengan kekuasaan,
dalam posisi yang teramat strategis, terutama kemampuannya dalam
sarana legitimasi. Media massa seperti juga lembaga-lembaga
pendidikan, agama, seni dan kebudayaan, menjadi bagian dari alat
kekuasaan yang bekerja secara ideologis untuk membangunkepatuhan
khalayak terhadap kelompok yang berkuasa (ideological
states apparatus).
Sedangkan menurut Antonio
Gramsci (1971, dalam Al Zastrouw, 2000) menyatakan bahwa media
sebagai ruang bagi semua ideologi. Media bisa menjadi alat penguasa,
alat legitimasi, juga kontrol terhadap wacana publik. Namun dia juga
dapat menjadi alat resistensi terhadap kekuasaan, seperti yang
terjadi di Indonesia pada 1998. Media dapat menjadi alat membangun
kultur dan ideologi bagi dominan kepentingan kelas dominan,
sekaligus juga bis menjadi instrumen perjuangan kaum tertindas untuk
membangun kultur dan ideologi tandingan.
Dalam bab ini terselip
beberapa ungkapan yang menurut saya cukup menarik :
-
Media massa pada dasarnya tidak mereproduksi melainkan menentukan realitas melalui pemakaian kata-kata terpilih.
-
Para editor berkuasa penuh atas pilihan kata yang hendak dipakainya. Ia dapat atau harus memilih salah satu kata di antara deretan kata-kata yang hampir mirip namun berbeda rasanya. ( Alex Sobur, dalam Analisis Teks Media )
-
Bagi para reporter sebagai pencari, pengolah, dan penyampai informasi sekurang-kurangnyamenghadapi dua tantangan (Strentz, 1993:25). Pertama, reporter menahan godaan untuk menjadi bagian dari peristiwa berita dengan mengorbankan tanggungjawab kepada khalayak berita. Kedua, reporter tersebut harus mengakui bahwa seleksi sumber berita dan persoalan yang diajukannya bukan hanya akan mempengaruhi kisah itu sendiru, melainkan juga membentuk hasil isu apapun yang dilaporkan. Inti dari keduanya adalah, reporter bertanggungjawab terhadap khalayak berita, bukan kepada sumber berita.
Buku ini cukup menarik untuk
dibaca terutama bagi mereka yang tertarik dengan dunia jurnalistik.
Bahasan didalamnya mencoba membangunkan para penikmat media yang
selama ini terlelap dalam rangkaian kata-kata media yang cenderung
provokatif atau membenarkan satu sisi tanpa memberi peluang bagi
pihak lainnya untuk mengonfirmasi. Intinya kita dituntut untuk
melahap banyak referensi dalam memahami suatu kasus. Memperbanyak
alternatif bacaan, baik dari koran atau majalah. Dengan begitu kita
dapat lebih obyektif dalam menilai informasi dan
menjadi pembaca yang cerdas dan tidak mudah terbawa arus.

Komentar
Posting Komentar